“Take nothing but photograps, leave nothing but footprints and kill nothing but times (jangan ambil sesuatu kecuali foto, jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak dan jangan bunuh sesuatu di alam kecuali waktu)”

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah taman nasional di Jawa Timur, Indonesia, yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo. Taman ini ditetapkan sejak tahun 1982 dengan luas wilayahnya sekitar 50.276,3 ha.

Taman Nasional Gunung Merapi

Taman Nasional Gunung Merapi adalah sebuah taman nasional (sering disingkat TN) yang terletak di Jawa bagian tengah. Secara administrasi kepemerintahan, wilayah taman nasional ini masuk ke dalam wilayah dua propinsi, yakni Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Taman Nasional Gunung Rinjani

Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) adalah salah satu ekosistem dengan tipe hutan hujan pegunungan dan savana yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Taman Nasional Gede Pangrango

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mempunyai peranan yang penting dalam sejarah konservasi di Indonesia. Ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1980. Dengan luas 21.975 hektare, kawasan Taman Nasional ini ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan, hanya berjarak 100 km dari Jakarta.

Taman Nasional Gunung Ciremai

Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) adalah sebuah kawasan konservasi yang terletak di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Taman nasional ini dimaksudkan untuk melindungi kekayaan hayati dan lingkungan di wilayah Gunung Ciremai.

Friday, February 24, 2012

Gunung Ceremai

Kali ini kita akan mengetahui salah satu gunung yang ada di Pulau Jawa yaitu "Gunung Ceremai".
Gunung Ceremai (seringkali secara salah kaprah dinamakan "Ciremai") secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut. Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat.

Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.

Kini G. Ceremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektare.

Nama gunung ini berasal dari kata cereme (Phyllanthus acidus, sejenis tumbuhan perdu berbuah kecil dengan rada masam), namun seringkali disebut Ciremai, suatu gejala hiperkorek akibat banyaknya nama tempat di wilayah Pasundan yang menggunakan awalan 'ci-' untuk penamaan tempat.

Vulkanologi dan geologi
Gunung Ceremai termasuk gunungapi Kuarter aktif, tipe A (yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk strato. Gunung ini merupakan gunungapi soliter, yang dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap – Kuningan dari kelompok gunungapi Jawa Barat bagian timur (yakni deretan Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha hingga Gunung Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung.

Ceremai merupakan gunungapi generasi ketiga. Generasi pertama ialah suatu gunungapi Plistosen yang terletak di sebelah G. Ceremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-Plistosen di atas batuan Tersier. Vulkanisma generasi kedua adalah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh membentuk Kaldera Gegerhalang. Dan vulkanisma generasi ketiga pada kala Holosen berupa G. Ceremai yang tumbuh di sisi utara Kaldera Gegerhalang, yang diperkirakan terjadi pada sekitar 7.000 tahun yang lalu (Situmorang 1991).

Letusan G. Ceremai tercatat sejak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937 dengan selang waktu istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga letusan 1772, 1775 dan 1805 terjadi di kawah pusat tetapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Letusan uap belerang serta tembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan 1924. Pada 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. Sebaran abu mencapai daerah seluas 52,500 km bujursangkar (Kusumadinata, 1971). Pada tahun 1947, 1955 dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda daerah baratdaya G. Ciremai, yang diduga berkaitan dengan struktur sesar berarah tenggara – barat laut. Kejadian gempa yang merusak sejumlah bangunan di daerah Maja dan Talaga sebelah barat G. Ceremai terjadi tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa hingga Desa Cilimus di timur G. Ceremai.

Jalur Pendakian


Puncak gunung Ceremai dapat dicapai melalui banyak jalur pendakian. Akan tetapi yang populer dan mudah diakses adalah melalui Desa Palutungan dan Desa Linggarjati di Kab. Kuningan, dan Desa Apuy di Kab. Majalengka. Satu lagi jalur pendakian yang jarang digunakan ialah melalui Desa Padabeunghar di perbatasan Kuningan dengan Majalengka di utara. Di kota Kuningan terdapat kelompok pecinta alam "AKAR" (Anak Kuningan Alam Rimba) yang dapat membantu menyediakan berbagai informasi dan pemanduan mengenai pendakian Gunung Ceremai.

Keanekaragaman hayati
Vegetasi

Hutan-hutan yang masih alami di Gunung Ceremai tinggal lagi di bagian atas. Di sebelah bawah, terutama di wilayah yang pada masa lalu dikelola sebagai kawasan hutan produksi Perum Perhutani, hutan-hutan ini telah diubah menjadi hutan pinus (Pinus merkusii), atau semak belukar, yang terbentuk akibat kebakaran berulang-ulang dan penggembalaan. Kini, sebagian besar hutan-hutan di bawah ketinggian … m dpl. dikelola dalam bentuk wanatani (agroforest) oleh masyarakat setempat.

Sebagaimana lazimnya di pegunungan di Jawa, semakin seseorang mendaki ke atas di Gunung Ciremai ini dijumpai berturut-turut tipe-tipe hutan pegunungan bawah (submontane forest), hutan pegunungan atas (montane forest) dan hutan subalpin (subalpine forest), dan kemudian wilayah-wilayah terbuka tak berpohon di sekitar puncak dan kawah.

Lebih jauh, berdasarkan keadaan iklim mikronya, LIPI (2001) membedakan lingkungan Ciremai atas dataran tinggi basah dan dataran tinggi kering. Sebagai contoh, hutan di wilayah Resort Cigugur (jalur Palutungan, bagian selatan gunung) termasuk beriklim mikro basah, dan di Resort Setianegara (sebelah utara jalur Linggarjati) beriklim mikro kering.

Secara umum, jalur-jalur pendakian Palutungan (di bagian selatan Gunung Ciremai), Apuy (barat), dan Linggarjati (timur) berturut-turut dari bawah ke atas akan melalui lahan-lahan pemukiman, ladang dan kebun milik penduduk, hutan tanaman pinus bercampur dengan ladang garapan dalam wilayah hutan (tumpangsari), dan terakhir hutan hujan pegunungan. Sedangkan di jalur Padabeunghar (utara) vegetasi itu ditambah dengan semak belukar yang berasosiasi dengan padang ilalang. Pada keempat jalur pendakian, hutan hujan pegunungannya dapat dibedakan lagi atas tiga tipe yaitu hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan atas dan vegetasi subalpin di sekitar kawah. Kecuali vegetasi subalpin yang diduga telah terganggu oleh kebakaran, hutan-hutan hujan pegunungan ini kondisinya masih relatif utuh, hijau dan menampakkan stratifikasi tajuk yang cukup jelas.

Margasatwa
Keanekaragaman satwa di Ceremai cukup tinggi. Penelitian kelompok pecinta alam Lawalata IPB di bulan April 2005 mendapatkan 12 spesies amfibia (kodok dan katak), berbagai jenis reptil seperti bunglon, cecak, kadal dan ular, lebih dari 95 spesies burung, dan lebih dari 20 spesies mamalia.
Beberapa jenis satwa itu, di antaranya:
  •         Bangkong bertanduk (Megophrys montana)
  •         Percil Jawa (Microhyla achatina)
  •         Kongkang Jangkrik (Rana nicobariensis)
  •         Kongkang kolam (Rana chalconota)
  •         Katak-pohon Emas (Philautus aurifasciatus)
  •         Bunglon Hutan (Gonocephalus chamaeleontinus)
  •         Cecak Batu (Cyrtodactylus sp.)
  •         Elang Hitam (Ictinaetus malayensis)
  •         Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus)
  •         Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)
  •         Puyuh-gonggong Jawa (Arborophila javanica)
  •         Walet Gunung (Collocalia vulcanorum) [masih perlu dikonfirmasi]
  •         Takur Bultok (Megalaima lineata)
  •         Takur Tulung-tumpuk (Megalaima javensis)
  •         Berencet Kerdil (Pnoepyga pusilla)
  •         Anis Gunung (Turdus poliochepalus)
  •         Tesia Jawa (Tesia superciliaris)
  •         Ceret Gunung (Cettia vulcania)
  •         Kipasan Ekor-merah (Rhipidura phoenicura)
  •         Burung-madu Gunung (Aethopyga eximia)
  •         Burung-madu Jawa (Aethopyga mystacalis)
  •         Kacamata Gunung (Zosterops montanus)
  •         Trenggiling biasa (Manis javanica)
  •         Tupai kekes (Tupaia javanica)
  •         Kukang (Nycticebus coucang)
  •         Surili Jawa (Presbytis comata)
  •         Lutung Budeng (Trachypithecus auratus)
  •         Ajag (Cuon alpinus)
  •         Teledu Sigung (Mydaus javanensis)
  •         Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis)
  •         Macan Tutul (Panthera pardus)
  •         Kancil (Tragulus javanicus)
  •         Kijang (Muntiacus muntjak)
  •         Jelarang Hitam (Ratufa bicolor)
  •         Landak Jawa (Hystrix javanica)

Navigasi Darat

Navigasi Darat

  

PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi navigasi sekarang ini sangat pesat, banyak peralatan navigasi yang canggih dengan harga terjangkau,  namun ketersediaan alat tersebut tidak menjamin keselamatan kita dalam hal berkegiatan di alam bebas, bahkan dengan adanya alat tersebut semakin banyak kecelakaan yang terjadi dalam  berkegiatan di alam bebas.
Kenapa Terjadi?
Ketergantungan kepada alat navigasi yang canggih membuat banyak orang lupa dan meremehkan kemampuan dasar navigasi, kebanyakan kasus yang terjadi jika alat yang mereka gunakan rusak, habis baterai, macet, dan lain sebagainya.
Ilmu–ilmu dasar navigasi adalah hal yang wajib dimiliki oleh setiap petualang, ilmu ini lah yang secara turun temurun diwariskan dari Nenek Moyang kita, kemampuan membaca rasio  bintang oleh para Nelayan, membaca penampakan alam dan pohon-pohon yang ada oleh para Masyarakat, dan lain sebagainya. Mengapa kita tidak bisa?

Pengertian

Banyak pengertian mengenai navigasi, dimana pada dasarnya navigasi adalah suatu kegiatan untuk menentukan arah, kedudukan tempat kita berada maupun orang lain serta menentukan lintasan atau jalur perjalanan agar sampai pada  tujuan yang diinginkan. Ada berbagai macam tipe navigasi, navigasi  darat, laut, dan udara, masing – masing mempunyai ciri khas tersendiri dalam segi penerapan ilmunya. Dalam buku ini hanya akan dibahas mengenai navigasi di daratan saja, termasuk navigasi di Sungai dan pantai, atau biasa dikenal dengan istilah Navigasi darat.
Kemammpuan dalam bernavigasi  sangat  ditentukan oleh pengalaman seseorang, semakan sering seseorang melakukan kegiatan navigasi maka  akan semakin mudah dan lancar baginya dalam bernavigasi.

Persiapan Alat Navigasi

Dalam melakukan kegiatan di alam, membawa alat navigasi adalah sesuatu yang wajib, banyak manfaat yang akan dirasakan apabila alat – alat tersebut kita bawa dalam berkegiatan di alam, berikut adalah alat – alat yang biasa digunakan untuk melakukan navigasi :
  • Peta
  • Kompas
  • Alat tulis ( busur, penggaris, protaktor, pinsil, jangka ukur, buku lapang, dll )
  • Alat penunjuk ketinggian tempat ( Altimeter )
  • Alat penunjuk kedudukan tempat (GPS)

Peta


Peta adalah suatu presentasi di atas bidang datar baik seluruh atau sebagian  permukaan bumi, yang dilihat dari atas dan diperkecil dengan perbandingan tertentu. peta dilengkapi dengan keterangan-keterangan yang diperlukan, namun  ada bagian peta yang biasanya tidak digambar menurut perbandingan di lapangan seperti jalan, jembatan, rel kereta dan sebagainya.
Pada masa sekarang ini peta memegang peranan penting dalam segala macam bentuk aktifitas manusia, beribu – ribu peta telah diproduksi, baik untuk kepentingan militer, penelitian, ekspedisi, dan lain sebagainya.

Jenis jenis Peta

Ada beberapa jenis peta yang dibuat tergantung tujuan penggunaannya, diantaranya adalah :
Peta Topografi
Peta ini menyajikan gambaran secara detail keadaan suatu tempat sehingga dapat diperoleh gambaran secara jelas.  informasi yang didapat cukup lengkap, seperti jalan, batas wilayah, trianggulasi dan lain-lain termasuk kontur sebagai gambaran ketinggian tempat.  Skala yang diguna kan biasanya 1 : 50.000 dan 1 : 25.000, peta topogfafi biasanya menggambarkan perbedaan ketinggian pada  suatu daerah dengan interfal tertentu, dimana interval tersebut tergantung dari skala yang digunakan peta tersebut.
Peta Tematik
Peta tematik adalah peta yang menyajikan topik tertentu, misalnya peta tanah, peta lahan pertanian, peta kerapatan penduduk dan lain-lain
Peta Potret Udara
Peta hasil interpretasi potret udara dapat digunakan untuk pembuatan peta topografi, karena dapat menggambarkan kondisi secara tiga dimensi suatu tempat. Potret udara sendiri biasanya mempunyai skala sekitar 1 : 20.000.
Peta Citra landsat
Peta hasil penafsiran citra landsat, biasanya berskala sekitar 1 : 100.000. Selain jenis peta diatas banyak jenis peta lainnya diantaranya Peta Dunia, Peta negara, peta teknik, peta areal kerja, dan lain – lain.

Perawatan Peta

Sebagian besar kerusakan peta terjadi akibat pemakaian dan penyimpanan yang tidak baik, hal tersebut dapat menyebabkan peta sobek dan lapuk, ada beberapa cara menyimpan dan merawat peta yaitu :
n  Menyimpan dalam lemari khusus peta
n  Menggulung, kemudian dimasukan kedalam tempat khusus peta yang kedap air (tabung peta).
n  Memasukan kedalam kantong plastik,
n  Laminating
n  Menyemprot dengan bahan pelindung khusus.
 
Agar mempermudah pencarian peta, berikan lebel  dan nomor pada peta, sehingga dalam keadaan terdesak peta tersebut mudah ditemukan.
Banyak cara yang digunakan dalam membawa peta ke lapangan, tujuannya  adalah agar peta tersebut tidak rusak, salah satunya dengan cara menggulung peta dan memasukannya ke  tabung peta, bisa terbuat dari pipa atau tabung khusus peta, dan letakanlah peta tersebut disamping carier agar mudah dikeluarkan.

Informasi Pada Peta

Ialah informasi – informasi yang terdapat pada peta, adanya informasi ini bertujuan agar pembaca dapat lebih memahami peta yang dimaksu. Dalam hal ini yang dibahas adalah peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), yang merupakan peta acuan dan standar di Indonesia dan diterbitkan oleh Badan koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).
Badan Peta
 Merupakan informasi berupa gambar peta itu sendiri, untuk skala 1 : 50.000 sebesar 15’ x 15’ atau ± 56 cm x 56 cm. Terletak mendominasi sisi kiri atas tanpa tepi untuk memudahkan penggabungan dengan peta lain di sebelahnya.
Judul Peta
Adalah identitas daerah yang tergambar pada peta.  Umumnya mencantumkan Skala, nomor lembar peta, nama daerah atau identitas yang menonjol, Judul peta umumnya disisi kanan atas peta.
Skala
Ialah perbandingan antara jarak pada peta dan jarak sebenarnya di lapangan,  biasanya dinyatakan dalam skala angka atau batang.
Keterangan pembutan peta
Berisi informasi pembuatan seperti cara dan tahun pembuatan, nama instansi pembuat, pada umumnya ditempatkan disisi kanan. Tahun pembutan peta sangat diperlukan untuk menghitung sudut variasi magnetis, karena kutub magnetis selalu berubah setiap tahunnya.
Legenda
Ialah keterangan – keterangan pada peta yang menjelaskan arti simbol – simbol pada peta, seperti sungai, hutan, persawahan, dan lain – lain. terdapat juga perbedaan warna dalam suatu legenda, yang berfungsi membedakan antara legenda yang satu dengan yang lainnya.
Nomor Peta
Nomor pada peta berguna untuk kita dalam mencari peta yang dibutuhkan

Koordinat

Lembaran peta terbagi atas dua garis koordinat, yaitu garis horisontal dan vertikal membentuk kotak-kotak bujursangkar. Terdapat dua sistem yang biasanya ditampilkan di peta yaitu sistem koordinat Grid dan Universal.
Koordinat grid memakai sistem Koordinat UTM yang artinya kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak dari setiap titik acuan, sedangkan koordinat universal atau yang  biasa disebut geografis, menggunakan sistem  lintang dan bujur dengan satuan derajat, menit dan detik, koordinat geografis inilah yang biasanya sering digunakan.
Pada peta rupa bumi Indonesia digunakan sistem keduanya. Untuk sistem grid yang mempunyai nilai 1.000 meter tiap karvak ditampilkan dengan garis warna hitam, garis ini ditempatkan diluar peta.  Sedangkan sistem koordinat universal langsung dibuat garis warna biru diatas peta, mempunyai nilai 30 detik untuk tiap karvaknya.  Jadi karvak grid dan universal tidak sama.
Ada beberapa penyebutan koordinat grid yang sering dipergunakan yaitu dengan sistem 4 angka, 6 angka dan 8 angka.  Sistem 4 angka biasanya dipakai untuk memperlihatkan posisi suatu tempat yang cukup luas kira-kira 1 km persegi, misalnya untuk menunjukan kampung, danau, sungai dan sebagainya, sedangkan sistem 6 angka dimaksudkan untuk memperlihatkan suatu tempat yang lebih sempit kira-kira 100 meter, seperti lokasi berkemah, titik pertemuan dan lain-lain dan sistem 8 angka untuk menentukan areal yang lebih kecil lagi sekitar 10 m.
Contoh :
Koordinat tempat kedudukan Jembatan tempat titik pertemuan adalah antara garis horisontal nomor 46 dengan 47 dan antara garis vertikal 35 dengan 36, pada sistem empat angka dibaca sebagai koordinat 4635, sedangkan dengan sistem 6 angka garis-garis ini kemudian dibagi menjadi 10 bagian dan diberi nomor  1 sampai 9 dari angka paling kecil jadi kedudukan Jembatan tempat titik pertemuan tersebut ( digambarkan dengan simbol seperti donat ) adalah =  465357.

Pengukuran Jarak Dengan Skala

Perbandingan ukuran atau jarak antara yang digambarkan di peta dengan jarak dilapangan dikenal dengan istilah skala.  Dalam peta dikenal dua macam skala yang sering dicantumkan secara berdampingan, yaitu skala angka dan skala gambar.
Dalam skala angka misalnya 1 : 100.000 artinya satu centimeter diatas peta sama dengan 100.000 cm atau sama dengan 1 Km di lapangan. Skala gambar dicantumkan dengan menggambarkan garis dengan jarak-jarak tertentu di peta. Tidak seperti skala angka sifat skala gambar tidak berubah meskipun peta tersebut dicopi diperkecil, hasilnya tetap bisa digunakan sesuai skala yang tercantum.
Dalam perpetaan ada istilah skala besar, skala sedang dan skala kecil, skala besar artinya dalam ukuran peta tertentu di-gambarkan suatu daerah yang sempit biasanya lebih terperinci dan jelas faktor skala kurang dari 10.000 misalnya dengan skala 1 : 10.000, skala 1 : 5.000, digunakan untuk keperluan Perencanaan, teknik engineering atau survey kadaster. Skala sedang mempunyai factor skala antara 10.000 s/d 1.000.000 misal skala 1 : 25.000, 1 : 50.000 diproduksi untuk peta topografi, peta survey geologi atau tanah atau survey udara. skala kecil digambarkan suatu daerah yang sangat luas dan kurang terinci biasanya hanya sebagai peta situasi, atlas misalnya dengan skala  1 : 2.500.000. dipergunakan untuk pemakaian masyarakat umum atau pendidikan seperti atlas.

Deklinasi

Diagram variasi magnetis, ditempatkan dipinggir bawah peta dan diberi keterangan pergeseran tiap tahun yang berlaku pada peta tersebut antara Utara magnetis (UM) dan utara peta (UG), kemana arah membuka dan menutup untuk wilayah Indonesia umumnya mempunyai pergeseran 2‘ setiap tahun.
 Utara sebenarnya ( US ) / True North ( TN )
Ialah arah yang menunjukan arah kutub utara, dan menggambarkan garis lintang bola dunia sesungguhnya,  dalam penggunaan praktis suatu perjalanan penjelajahan, tanda ini boleh diabaikan karena yang lebih sering digunakan adalah utara peta.
Utara Peta ( UG ) / Grid North ( GN )
Ialah arah utara yang digambarkan pada peta sebagai garis vertikal, merupakan proyeksi bumi pada bidang peta yang terbentuk pada pola koordinat grid. Setiap tahun terjadi pergeseran antara TN dengan GN, ini disebut variasi peta, dimana dalam diagram variasi digambarkan sebesar 0°05’.  Dalam perjalanan praktis variasi peta boleh diabaikan.

Utara Magnetis ( UM ) / Magnetic North ( MN )
Merupakan arah utara yang ditunjukan oleh jarum kompas, arah tersebut tidak tepat di kutub utara, melainkan di Jazirah Boothia di utara Kanada. Arah utara magnetis pada setiap tempat permukaan bumi tidaklah sama, setiap tahunnya kutub magnetis selalu bergeser yang disebabkan pengaruh rotasi bumi, untuk Indonesia arah utara magnetis bergeser ke arah timur. Akibat pergeseran utara magnetik ini menyebabkan variasi magnetis berubah setiap tahunnya, variasi ini disebut Deklinasi, sedangkan pergeseran antara arah utara peta dengan utara magnetis disebut variasi peta magnetis atau biasa disebut deklinasi magnetis.
Dalam membaca peta dan menentukan arah perjalanan terlebih dahulu perhatikan tahun pembuatan peta tersebut.  Hitung deklinasi magnetis dari tahun pembuatan sampai sekarang, lalu jumlahkan deklinasi mag-netis seluruhnya.
Contoh :
Berdasarkan keterangan pada gambar diatas, deklinasi rata-rata pada tahun 1980 adalah 1°25’, pergeseran deklinasi magnetis tiap tahun berkurang sebesar 3’, jadi sampai tahun 2002 pergeserannya adalah sebesar (2002 – 1980) x 3’ = 1°06’,  sehingga besar deklinasi magnetis dari tahun 1980 sampai dengan tahun 2002 seluruhnya adalah 1°25’ – 1°06’ = 0°19’.

 Mengukur Jarak lurus

Bila akan mengukur jarak lurus untuk mudahnya dapat menggunakan penggaris atau kertas kosong , ukurlah  seberapa jauh jarak di peta kemudian beri tanda, setelah itu tempelkan hasil pengukuran tadi pada skala gambar dengan catatan bagian yang lebih kecil ditempatkan pada garis skala yang terbagi kecil-kecil di sisi kiri, dengan demikian dapat dibaca nilai jarak yang dicari.
Contoh :
Mengukur antara puncak Gunung Lauwalu (titik A) me nuju titik trianggulasi TTG III – 11 (titik B) dengan menggunakan secarik kertas seperti pada gambar dikanan atas. Cara lain adalah menghitung dengan kalkulator, ukur jarak dengan penggaris lalu kalikan dengan faktor skala peta

Mengukur jarak tidak lurus

Untuk mengukur jarak yang tidak lurus seperti jalan raya, sungai, pantai dll akan menemukan kesulitan, untuk itu cara pengukurannya antara lain yaitu dengan menggunakan alat map odometer atau bila tidak ada dapat menggunakan kertas, benang atau benda lain yang dapat dibengkokan sesuai lintasan yang akan diukur dipeta.
Pengukuran panjang atau jarak untuk lintasan yang tidak lurus di peta, dapat dilakukan dgn cara menggunakan kertas. Ikuti segmen yang dianggap lurus sampai ada belokan kemudian kertas diberi tanda, lakukan untuk segmen berikutnya sampai ujung lintasan yang akan diukur, hasilnya tempelkan kertas pada skala gambar seperti pengukuran jarak lurus.
Caranya pengukuran lintasan tidak lurus lainnya adalah dengan memegang salah satu sisi benang, letakan pada titik yang satu  kemudian ikuti kelokannya sesuai dengan yang tergambar dipeta sampai pada titik akhir yang akan diukur, setelah didapat benang dapat diukur panjangnya kemudian lakukan seperti pada cara mengukur garis lurus.

Kontur

Relief muka bumi di dalam peta digambarkan dengan kontur.  Kontur adalah suatu garis imajiner dalam peta yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian yang sama di permukaan bumi yang diukur dari permukaan laut.
Bagi para penjelajah garis kontur pada peta sangat penting karena menentukan pada pertimbangan dalam menyusun perencanaan perjalanan, dengan memperhatikan kontur yang untuk lebih mudahnya digambarkan dalam bentuk proyeksi melintang dapat diketahui bagian bumi yang curam, landai atau datar.
Bila garis kontur terlihat berjauhan atau jarang berarti tempat tersebut landai atau datar, sebaliknya bila garis kontur rapat menandakan daerah yang curam. Jarak antara garis–garis kontur yang sama menunjukan kemiringan lereng yang sama, sedangkan bila jarak antar garis kontur dari tempat tinggi ke bawah berkurang (renggang berangsur rapat) menunjukan lereng cembung dan sebaliknya bila jarak antar garis kontur dari atas kebawah bertambah (rapat berangsur renggang) menunjukan lereng cekung. Perhatikan gambar penampang (Proyeksi) melintang kontur sebelah kiri atas.
Interval kontur adalah perbedaan dua garis ketinggian atau garis kontur yang biasanya ditempatkan dibawah skala garis,  bila tidak dinyatakan pada peta dapat dihitung dengan rumus 1 / 2000 dikalikan faktor skala.  Misal : peta skala 1 : 50.000  maka interval konturnya adalah 1 / 2000 x 50.000  = 25 meter.
Contoh peta dimana terdapat contoh beberapa bentuk relief bumi yang ditemui dilapangan, dapat dilihat pada gambar disebelah
Pada peta berwarna, perbedaan antara daerah tinggi dan rendah dicantumkan dengan pewarnaan yang ber-beda, biasanya untuk daerah rendah berwarna hijau, sedangkan daerah tinggi warna coklat.

Prinsip-prinsip garis kontur

  1. Garis kontur yang rendah mengelilingi garis kontur yang tinggi.
  2. Garis kontur tidak pernah berpotongan, tidak bercabang dan akan bertemu dimanapun tempatnya.
  3. Garis kontur pada daerah landai berjauhan sebaliknya pada daerah curam akan rapat.
  4. Garis kontur yang menjauh dari puncak atau menjorok keluar merupakan punggung bukit
  5. Garis kontur yang mendekat ke puncak merupakan lembah.
  6. Interval garis kontur adalah 1 / 2.000 kali faktor skala.
  7. Kondisi daerah yang khusus seperti kawah, tebing, puncak akan digambarkan khusus.
Titik ketinggian adalah point ketinggian suatu tempat yang diukur dari permukaan laut biasanya disebut titik trianggulasi.  Dilapangan biasanya berupa patok atau tonggak dari beton atau logam yang menyatakan tinggi sebenarnya.

Proyeksi melintang Peta

Proyeksi melintang peta dibuat dengan manfaat sebagai berikut :
        Sebagai pertimbangan dalam menyusun rencana perjalanan
        Memudahkan untuk menggambarkan kondisi kecuraman medan
        Mengetahui titik titik kertinggian dan jarak dari medan tertentu

KOMPAS

Ada dua sistem satuan pembagian lingkaran yang biasa pada kompas yaitu  Sistem derajat ( º ) dimana lingkaran penuh terbagi menjadi 360º dan Sistem centigrads dimana lingkaran terbagi menjadi 400 grads. Di Indonesia sistem derajat adalah yang umum dipakai dan dikenal luas.
Pada sistem derajat, tiap 1º terbagi menjadi 60’ (dibaca 60 menit) dan tiap 1’ terbagi lagi menjadi 60” ( dibaca 60 detik ). Arah utara (N) biasanya ditempatkan pada angka 0º,  Selatan (S) = 180º,  Barat (W) = 270º dan  Timur (E) = 90º dengan urutan searah jarum jam.
Untuk navigasi darat praktis satuan menit dan detik dapat diabaikan, Apabila kompas ketika digunakan menunjukan diantara dua penunjuk garis derajat dalam prakteknya dapat dibaca sebagai setengah derajat.

Ragam Kompas

Banyak jenis kompas yang digunakan untuk membaca peta dan navigasi,  walaupn  banyak perbedaan bentuk dan jenis serta ukuran tapi prinsip penggunaannya sama.  Jarum kompas yang mengarah ke utara mag-netis selalu ditandai dengan ciri yang mencolok atau dioles dengan pasfor agar selalu tampak meskipun di dalam gelap.  Bagian-bagian dari kompas yaitu jarum magnet, skala lingkar mendatar, penunjuk satuan derajat yang berada tepat ditengah lingkar mendatar mempunyai nilai 0º sampai dengan 360º.

Jenis-jenis kompas

Terdapat berbagai macam jenis kompas, diantarnya adalah kompas silva, kompas jempol, kompas bidik, kompas optic, kompas prisma, kompas cermin, dan kompas digital, dalam kegiatan navigasi darat jenis kompas yang paling sering digunakan adalah kompas silva dan bidik.

Kompas Silva

Kompas silva dibuat pertama kali di Swedia pada tahun 1930 oleh Kjellstrom bersaudara didisain untuk olahraga orienteering,  namun demikian sekarang dibuat banyak model dan digunakan untuk berbagai keperluan. Kompas silva dapat digunakan untuk ploting, menghitung arah dengan cepat dan tepat diatas peta tanpa menggunakan busur karena memang merupakan kombinasi dari keduanya

Cara penggunaan Kompas Silva

Menentukan Garis arah
Tempatkan sisi garis yang panjang kompas, berhimpit dengan arah garis yakinkan anak panah berada pada titik sasaran atau perjalanan yang dikehendaki.Putar rumah skala seterusnya meridien line sejajar dengan sumbu vertikal. Baca arah lintasan yang berada dalam rumah skala mendatar digaris penunjuk derajat.
Sepanjang perjalanan sudut magnetik sebaiknya sudah diset dengan memutar rumahan hingga arah yang dikehendaki tepat dengan garis penunjuk. Pegang alat kompas di telapak tangan, putar hingga tanda merah pada jarum kompas menunjuk arah utara magnet, pada rumahan kompas Arah yang dituju adalah yang ditunjuk sudut magnet.
Menentukan sudut magnet
Pegang kompas arahkan titik yang dikehendaki pada obyek. Putar rumahan kompas hingga jarum merah, meridien line berada di bawah jarum merah (Utara) jarum kompas berhenti.
Baca sudut magnetik pada rumahan persis di garis penunjuk ( Index Line ).

 

Kompas Bidik

Kompas bidik digunakan untuk membidik mengetahui azimuth suatu objek, yang termasuk kompas ini antara lain : Kompas prisma, kompas lensa, kompas cermin, kompas optis, kompas digital (ada juga yang tergabung dengan GPS). Kompas Lensa dilengkapi lensa pembesar yang memungkinkan dapat membaca angka pada piring plat secara tepat,  pada bak kompas terisi dengan cairan yang memudahkan untuk pergerakan piringan untuk dapat berputar berhenti dengan cepat.

 

Cara Penggunaan Kompas lensa dan Prisma Siang hari

Menentukan nilai arah, pegang kompas dengan dua tangan, ibu jari masuk kedalam ring kompas, pandang celah dekat lensa/prisma lurus dengan garis rambut yang ada pada tutup kompas searah dengan obyek yang dikehendaki, baca skala mendatar pada plat skala dari celah lensa pembesar, angka yang terdapat pada pivot point adalah nilai arah.

Menentukan arah dan sudut kompas, pegang kompas seperti cara diatas, pandangan mata ke lensa/prisma dan putar kompas sampai garis rambut me motong sudut yang dikehendaki pada plat skala.Menggunakan kompas tanpa prisma,  merupakan salah satu cara penggunaan meskipun ketelitiannya kurang.  Untuk menentukan arah caranya adalah dengan membuka kompas mendatar dan garis pada lidah kompas lurus dengan objek, baca putaran arah pada kompas yang ditunjukan oleh garis penunjuk lubber line seperti pada gambar samping  ini.

Kalibrasi Kompas

Mengingat setiap kompas mempunyai karakteristik tersendiri yang memungkinkan adanya kompas yang agak melenceng, untuk itu kompas perlu dikalibrasi diantaranya dengan cara :
n  Diperbaiki di pabrik.
n  Mencocokan semua kompas dengan ada 1 kompas patokan. Sehingga yang lainnya dapat menyesuaikan dengan menambah atau mengurang.
n  Dengan mengecek memakai dua trianggulasi yang terdapat dilapangan dan dipeta, tentukan sudut petanya lalu bidik             dengan kompas catat hasilnya, konversi arahnya dengan memperhitungkan variasi peta magnetik. Selisih sudut    keduanya merupakan nilai kalibrasi yang harus diperhitungkan.

Gangguan magnet lokal

Kompas dapat terpengaruh gangguan magnet lokal bila berdekatan dengan bahan logam, instrumen kompas yang kecil sangat peka terhadap bahan yang mempengaruhi arah magnet kompas. Berikut jarak aman dari pengaruh gangguan  magnet lokal dalam menggunakan kompas :
  • Kawat tegangan tinggi > 80 m
  • Alat berat ( Tractor, Dumpturck dll ) > 75 m
  • Mobil > 60 m
  • Pagar kawat / beton > 10 m
  • Kapak / sekop >  3 m
Untuk memastikan gangguan magnet, caranya adalah dengan menentukan dua titik yang berjarak ± 100 meter, misalnya titik A dan Titik B.  Ambil sudut kompas dari titik A ke titik B, catat angka yang didapat, kemudian bidik balik dari titik B ke titik A.  Bila selisih pembidikan pertama dan kedua tidak sama dengan 180° berarti ada gangguan magnet lokal.

Bila Tidak ada Kompas

Adakalanya dalam suatu perjalanan mendapat kesulitan menentukan arah mata angin karena tidak ada kompas atau kompas hilang atau rusak, untuk itu perlu mengetahui cara menentukannya. Menentukan arah tanpa kompas biasanya bersifat global, tidak terlalu akurat dan tanpa nilai sudut.
Dengan Perbintangan
n  Melihat terbit / tenggelamnya matahari / bulan
n  Melihat posisi bulan
Pada malam hari, bulan dapat digunakan sebagai pedoman caranya adalah dengan memperhatikan permukaan bulan. Pada saat bulan purnama, permukaan bulan yang memperlihatkan bayangan kehitaman dan berkumpul pada satu sisi, tempat berkumpulnya bayangan tersebut menunjukan arah utara.
Pada saat bulan tidak utuh maka perhatikan bagian  yang terang, perhatikan pula waktu bulan pertama kali muncul, apabila muncul pada     saat matahari belum tenggelam maka bagian yang terang menunjukan     arah barat, jika bulan muncul saat lewat tengah malam, maka bagian bulan yang terang menunjukan arah timur.
Menggunakan Bayangan matahari
Arah mata angin dapat ditentukan dengan menggunakan bayangan matahari.  Caranya dengan menancapkan batang kayu lurus pada tanah yang relatif datar dan terbuka terbebas dari naungan. Tandai bayangan ujung batang (titik A) lalu tunggu sekitar setengah jam bayangan ujung  batang akan bergeser lalu tandai sekali lagi (titik B).  Tarik garis diantara kedua titik, garis tersebut menunjukan arah barat – timur, arah utara – selatan adalah garis tegak lurus arah barat – timur
Penggunaan  Rasi Bintang
Pada malam hari rasi bintang gubuk penceng atau layang -layang menunjukan arah selatan dan rasi bintang tujuh atau perahu menunjuk arah utara.
Membuat Kompas sendiri
Menggunakan jarum atau silet bermagnet yang diletakan diatas permukaan air. Untuk membuatnya terapung dapat digunakan pelamung seperti kertas atau gabus, berdasarkan arah yang ditunjukan jarum dapat diketahui arah utara –selatan, apabila jarum tidak bermagnet dapat dibuat dengan menggosokannya ke kain secara searah.
Tanda Medan
Penentuan arah juga dapat dilakukan dengan memperhatikan indikasi pada lumut yang menempel pada batang pohon, batang pohon yang berlumut tebal biasanya menunjukan arah timur. Selain lumut pangkal liana pada tumbuhan biasanya tumbuh mengarah ke timur.
Selain tanda – tanda alami dapat juga menggunakan tanda buatan, seperti bangunan Rumah ibadah Islam yang selalu menunjuk arah kiblat ( Untuk di   Indonesia menunjuk arah barat laut ) dan Kuburan Islam selalu menunjuk arah utara.
Menggunakan Jarum Jam
Dengan Jarum jam atau Arloji, di daerah sebelah utara dari kedudukan garis edar matahari, jarum pendek arahkan ke matahari dan garis pembagi sudut antara angka jam 12  dengan jarum pendek adalah arah selatan. Di daerah sebelah selatan dari kedudukan garis edar matahari, caranya sama dengan diatas tapi yang didapat adalah arah utara.

PERALATAN NAVIGASI LAINNYA

Altimeter
Altimeter adalah suatu alat untuk mengukur ketinggian tempat dari permukaan laut, dengan adanya altimeter kita dapat mengetahui posisi ketinggian kita berada, dalam reseksi altimeter dapat digunakan dengan cara mencari perpotongan antara  garis kontur dengan sudut yang dibentuk.
Global Positioning Sistem ( GPS )
Global Positioning System (GPS) adalah peralatan system radio navigasi global yang menerima data dari beberapa satelit dan stasiun bumi, mempunyai keakuratan yang tinggi dalam menentukan posisi dan memetakan suatu lokasi yang diminta. Mampu menunjukan posisi lintang, bujur, ketinggian suatu tempat, waktu yang tepat, posisi bulan atau matahari, kecepatan pergerakan, odometer, jarak serta azimuth antara satu tempat dengan tempat lainnya secara cepat, tepat dan mudah diseluruh permukaan bumi.
Saat ini GPS sudah menjadi peralatan standar dalam kegiatan penerbangan, pelayaran, penelitian, serta kegiatan lainnya yang menuntut ketepatan menentukan suatu lokasi.GPS mengambil dan memproses data dari satelit, keakuratan GPS tergantung dari kapasitas yang dimilikinya, hal tersebut berpengaruh terhadap kemampuannya dalam menangkap satelit, ada yang hanya bisa menangkap 6 satelit, 12 satelit, bahkan 24 satelit.
 Data yang didapatkan dalam pengaplikasian GPS dapat disimpan dalam memory berupa waypoint, track dan route. Ketika kita ke lapangan simpanlah tempat – tempat yang sekiranya penting, seperti basecamp, pos pendakian, kantor polhut, Jembatan, Simpang jalan, Cabang sungai, Muara Sungai, perkampungan, serta tempat lainnya yang dianggap penting.
Ada beberapa kelemahan GPS, Selain harganya relatif mahal, GPS hanya bekerja secara optimal pada saat cuaca baik dan tempat terbuka, hal tersebut mempengaruhi signal yang diterima dari satelit. jika GPS digunakan di ruangan atau pada hutan bertajuk lebat, tentu akan mengalami kesulitan dalam penangkapan signal, apabila kita kelapangan salah satu cara unutk menanganinya dengan memanjat pohon untuk mendapatkan sinyal yang lebih baik dan akurat.
Perkembangan teknologi sangat berpengaruh besar terhadap dunia kegiatan alam bebas, Saat ini terdapat pula GPS generasi terbaru yang lebih serbaguna dan multi fungsi, merupakan kombinasi beberapa peralatan diantaranya GPS standar, Kompas, altimeter,  thermometer, clinometer, pengukur kecepatan angina atau pendinginan udara, calculator dan peta digital.

Orientasi Peta

Orientasi peta adalah bagaimana menempatkan dan menggunakan peta secara baik dan benar, hal ini merupakan langkah awal sebelum melakukan kegiatan navigasi darat. Tahapan dalam melakukan orientasi peta agar memperoleh pandangan muka bumi yang sesuai dengan gambaran peta adalah :
Tempatkan Sumbu vertikal peta sejajar atau berimpit dengan arah utara di lapangan. Cocokan gambar dipeta dengan keadan lapangan, pada daerah yang dikenal tidak akan menemui kesukaran tapi bila daerah baru atau pada saat cuaca kurang menguntungkan untuk melakukan orientasi seperti berkabut, kompas dapat membantu mengenali atau paling tidak dapat merencakan perjalanan selanjutnya di daerah tersebut.
Sebelum menentukan arah perjalanan atau mencari posisi, terlebih dahulu menghitung deklinasi magnetis yang telah dibahas bagian terdahulu.  Tentukan arah tujuan pada peta dan hitung azimuthnya. Setelah disesuaikan dengan perhitungan deklinasi magnetis, yaitu dengan mengubah azimuth di peta dengan azimuth magnetis, maka azimuth di kompas menjadi patokan arah perjalanan.
Di Indonesia, utara magnetis bergeser kesebelah timur dari utara peta, Untuk perhitungan azimuth peta ke kompas, maka azimuth di peta dikurangi deklinasi sebaliknya untuk perhitungan azimuth kompas ke peta, maka azimuth kompas ditambah hasil perhitungan deklinasi.  Sebagai contoh bila azimuth di peta 35° dan deklinasi 2°, maka azimuth kompas adalah 35° – 2° = 33°  sebaliknya bila azimuth kompas 35° dan deklinasi 2° maka azimuth peta adalah 35° + 2° = 37°.
Back Azimuth
Back Azimuth atau Bidik balik digunakan untuk memeriksa apakah arah yang ditempuh salah atau benar,  selisih antara azimuth keberangkatan dengan azimuth bidik balik harus (+ / -) 180°, caranya adalah sebagai berikut :
Pertama cari sebuah tanda yang mencolok pada tem pat asal perjalanan. Setelah beberapa jauh, misal sewaktu berangkat azimut yang digunakan adalah 20° maka bila kita bidik balik ketempat semula azimut yang didapat harus 20° + 180° = 200°.  Bila azimuth keberangkatan 300° maka back azimutnya adalah 300° – 180° =  120°. Bila selisih azimuth tidak sama dengan 180° maka arah perjalanan tidak benar atau  menyimpang

Menentukan arah perjalanan

Untuk menentukan arah perjalanan yang lurus dengan mengabaikan rintangan medan seperti jurang, tebing, lembah dan sebagainya, dilakukan dengan cara sebagai berikut Setelah posisi di peta diketahui, plotkan rencana arah tujuan dipeta, Bidik kompas sesuai rencana tentunya setelah memperhitungkan deklinasi terlebih dahulu, catat atau ingat arah tersebut, awali perjalanan dengan mengikuti arah yang ditunjukan kompas sesuai rencana. Sebagai patokan di lapangan bidik tanda tanda khusus seperti pohon, batu dan lain-lain yang terkena bidikan, jalanlah menuju tanda tanda tersebut, untuk mengetahui lintasan sudah benar jangan lupa lakukan back azimut, lalu ulangi lagi sampai mencapai tempat yang dituju, Jarak serta kecuraman medan yang dilalui dapat terlihat dengan membuat proyeksi melintang peta.
Penentuan arah juga dapat dilakukan secara beranting, cara ini memerlukan lebih dari satu orang dengan dua buah kompas, masing-masing memegang satu kompas. Caranya adalah sebagai berikut :
sesuai arah yang direncanakan orang pertama membidik orang kedua yang berada didepannya, setelah pembidikan dilakukan secara tepat, orang pertama pindah kedepan orang kedua, sementara orang kedua membidikan kompas ke orang pertama yang sudah berada didepannya, begitu seterusnya sampai tempat tujuan. Memang cara ini agak lambat tapi efektif di daerah tanpa tanda-tanda patokan.

Reseksi

Reseksi adalah suatu cara yang digunakan untuk menentukan suatu tempat atau kedudukan dilapangan pada peta, caranya adalah sebagai berikut :
  • Cari dua buah tanda dimedan yang diketahui dengan jelas dan tercantum            dipeta, contoh : puncak gunung, pulau, tanjung dll.  Bidik arah dengan     kompas hasilnya kemudian diplotkan pada peta dengan nilai back azimuth dan diubah arahnya menjadi sudut peta, maka didapat garis ”a” lalu gambarkan di peta.
  • Lakukan hal yang sama, untuk didapat garis b
  • Perpotongan garis a dan garis b di peta merupakan tempat kedudukan di           peta
Apabila kebetulan hanya membawa peta saja tanpa kompas, ada cara reseksi sederhana namun kurang akurat caranya adalah sebagai berikut
  • Tentukan tiga objek dilapangan yang terdapat di peta, titik dilapangan lalu kita namakan titik A, B & C. sedangkan di peta dinamakan titik a, b & c
  • letakan sebuah plastik atau lembaran transparan diatas landasan yang datar dan rata, lalu tancap sebatang jarum ditengahnya. namakan titik tersebut titik P Usahakan plastic tidak bergeser dengan menancapkan paku lainnya ditiap ujung plastic
  • Bidik ke objek A dari arah paku ditengah lalu buat garis diatas plastic     searah objek tersebut sehingga membentuk garis PA, lakukan untuk objek lainnya sehingga didapat tiga buah garis yang berpusat di titik P, yaitu garis Pa, Pb clan Pc
  • Tempatkan hasil penggambaran garis pada plastic ke atas petadan geserkan sedemikian rupa sehingga garis Pa menyinggung titk a, garis Pb menyinggung titik b dan garis Pc menyimggung titik c
  • Dari penempatan plastik dipeta tersebut titik P yang merupakan tempat kedudukan di peta dapat ditentukan.

Interseksi

Adakalanya posisi kita dipeta telah diketahui tapi ada posisi dihadapan kita seperti pesawat jatuh, camp dll yang belum diketahui letaknya dipeta. Untuk mengetahuinya memakai teknik interseksi, caranya adalah sebagai berikut :
  • Ketahui terlebih dahulu dua titik di medan yang dapat diidentifikasi          dipeta. Dari kedua titik tersebut bidikan kompas ke arah tempat yang ingin diketahui posisi­nya dalam peta tersebut.
  • Setelah diketahui azimuth magnetis dari kedua titik tersebut, perhitungkan ke azimuth peta.
  • Berdasarkan azimuth itu tarik kedua garis dari kedua titik yang teridentifikasi di peta sehingga berpotongan pada satu titik, titik itulah tempat yang ingin diketahui posisinya dalam peta
Kadangkala dalam menentukan kedudukan di peta hanya satu titik identifikasi saja, ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk mengatasinya yaitu
  • Bila kita berjalan di jalan setapak atau sungai yang tercantum dipeta, maka perpotongan garis yang ditarik dari titik identifikasi dengan jalan setapak atau sungai tersebut adalah kedudukan kita
  • Dengan menggunakan altimeter, sama degnan cara diatas perpotongan garis yang ditarik dari titik identifikasikasi dengan garis kontur pada ketinggian sesuai angka pada altimeter adalah kedudukan kita Dengan perkiraan,
  • apabila sedang mendaki gunung, kemudia berhasil mengidentifikasi titik seperti puncak gunung, caranya adalah dengan menarik garis identiflkasi itu, lalu perkirakan berapa bagian yang telah terlewati, maka disitulah perkiraan tempat kedudukan kita

Kesulitan dalam Navigasi

Penggunaan peta dan kompas memang cukup ideal, tapi sering dalam prakteknya sangat sukar untuk menerapkan di lapangan terutama dengan sulit ditemuinya tanda-tanda dilapangan yang dapat dijadikan patokan, dibawah ini terdapat beberapa lokasi yang mungkin akan menyulitkan dalam melakukan navigasi

Navigasi di Hutan Rawa dan mangrove

Hutan rawa dan mangrove biasanya bertopografi datar kadang dipenuhi aliran sungai kecil yang dapat berubah akibat banjir, tidak ada tanda ekstrim seperti gunung atau lembah yang dapat dijadikan patokan. Langkah yang harus dilakukan adalah.
n  Tentukan titik awal keberangkatan dipeta, Tanda­tanda yang dapat dijadikan patokan adalah sungai, lokasi desa terdekat, garis pantai (jika dekat pantai).
n  Rencanakan lintasan yang akan dilalui clan plotkan dipeta.
n  Bidik awal perjalanan yang diambil, catat sudut kompasnya.
n  Ukur clan catat jarak tempuh, lakukan terus untuk setiap bagian perjalanan sampai menemukantanda yang dapat dijadikan patokan seperti sungai, jika belum dijumpai lakukan terus sambil mencari tempat beristirahat.
Cara mengukur jarak :
n  Penaksiran jarak ( jika sudah mahir ).
n   Menggunakan tali ukur
n  Alat pengukur langkah yang dipasang pada pinggang bagian depan, catat jumlah langkah untuk setiap arah sudut kompas, ambil patokan 10 langkah sama dengan berapa meter.
n  Plot hasil pengukuran
n  Pemeriksaan posisi akhir dengan orientasi medan, bila tersesat, minimal kita mempunyai catatn perjalanan untuk kembali ketempat semula.
n  Jika medan terdapat rintangan atau tidak memung­kinkan untuk dilalui lakukan teknik melambung
n  Lakukan teknik yang sama di daerah lainnya yang sulit mendapatkan tanda-tanda alam yang        bisa dijadikan patokan, seperti di hutan belantara, medan berkabut dan lain-lain.

Navigasi di Sungai

 
Dalam perjalanan menyusuri sungai, baik berjalan kaki atau dengan perahu, kita dituntut untuk menguasai navigasi di sungai seperti halnya navigasi dalam perjalanan di gunung atau hutan. Secara praktis il­mu navigasi di sungai telah lama dikenal oleh orang dayak di pedalaman kalimantan. Sebab sungai merupakan salah satu ­sarana angkutan penting bagi mereka. Dan dalam penen­tuan kedudukannya di sungai, mereka menggunakan tanda-tanda alam yang berupa riam, belokan sungai, penyempitan pelebaran sungai, muara dan lainnya
Navigasi sungai adalah teknik untuk menentukan kedudukan secara tepat dalam perjalanan penyusuran sungai. Perbedaan yang mendasar antara navigasi di sungai dengan navigasi darat lainnya terletak pada acuan dasar untuk menentukan kedudukan. Pada navigasi darat, yang diambil sebagai acuan dasar adalah bentuk permukaan fisik bumi yang digambarkan oleh garis kontur, sedang pada navigasi di sungai acuan dasarnya adalah bentuk pada tepi kiri dan kanan sungai, yaitu belokan-belokan sungai yang tergambar di peta. Menentukan kedudukan di peta dilakukan dengan cara bergerak menyusuri sungai sambil rnemperhatikan perubahan arah belokan sungai, dibantu dengan tanda-tanda alam tertentu yang terdapat disepanjang sungai. Ada dua cara yang dapat dipakai untuk menentukan kedudukan:
Misalnya dalam melakukan penyusuran sumgai dad titik A ke titik B, kemudian pada suatu tempat dijumpai sebuah muara anak sungai di sebelah kiri, untuk menentukan kedudukan pada saat ini adalah: Lakukan orientasi peta, kemudian amati sekitar medan dengan teliti, ukur sudut kompas (azimuth) dari lintasam sungai pada belokan di depan dan di belakang dengan menggunakan kompas, ingat tanda alam sebelumnya yang terdapat di belakang ( misalnya di belakang kita terdapat sebuah delta) dan lihat juga tanda alam di depan (misalnya betokan sungai ke arah kiri), kemu­dian gambar situasi sungai yang telah di dapat, kemudian cari padanannya pada peta (perlu diketahui bahwa delta yang terdapat pada sungai adalah delta yang cukup besar, tidak tertutup pada saat banjir, dan di tumbuhi pepohonan, jika tidak memenuhi persyaratan tersebut tidak akan digambarkan pada peta. apabila masih kurang jelas, maka perlu dilakukan penyusuran sampai pada tanda alam berikutnya yang dapat lebih memperjelas kedudukan kita.

Navigasi di Pantai

Navigasi di pantai jauh lebih mudah daripada di Hutan Rawa karena seperti cara reseksi dengan satu titik identifikasi misal di sungai atau jalan, satu patokan sudah diketahui yaitu garis pantai jadi hanya diperlukan satu patokan lain untuk melakukan reseksi. Tanda­tanda medan yang dapat dijadikan patokan adalah sudut arah garis pantai, tanjung, teluk, muara sungai, pulau, bukit sekitar pantai, kampung nelayan dan lain-lain.
Jika menemui rintangan berupa tebing karang yang tidak bisa dilewati, lakukan reseksi untuk menentukan posisi sebelum posisi tebing tersebut, setelah itu laku­kan perjalanan melambung sampai rintangan terlewati Gunung berhutan lebat dan berkabut

Kesulitan Navigasi lainnya

Hutan yang terlalu lebat atau kabut tebal sering menyulitkan orientasi. Sama dengan di hutan rawa atau hutan mangrove, penanggulangan dari kemungkinan ini sebetulnya sudah harus dimulai dari awal perjalanan dan cara yang mudah dan aman yaitu dengan mengetahui dan mengenali secara tepat tempat pertama awal perjalanan kita

Kesesuaian Tanda di Lapangan

Bila medan tidak sesuai Peta Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulam bahwa peta yang dipegang salah, terkadang dilapangan banyak ditemukan sungai kecil yang tidak tergambar dipeta, karena sungai ter­sebut kering ketika musim kemarau, Dalam pemakaian peta perlu memperhitungkan waktu pembuatannya ka­rena dalam kurun waktu tertentu terdapat beberapa perubahan seperti perubahan batas kawasan, penam­bahan atau pengurangan ruas jalan, pemukiman, dan lain­lain. Peta akan selalu direvisi mengikuti perkembang­an yang terjadi, tidak ada peta yang berlaku abadi. Kalau terlalu banyak hal yang tidak sesuai kemungki­nan besar ada kesalahan dalam mengikuti punggung bukit atau sungai atau salah dalam melakukan reseksi, dan apabila setelah dilakukan berkali-kali secara benar namun tetap di temui ketidak cocokan antara peta dengan lapangan, seperti yang tercantum pada infor­masi peta ketidak cocokan itu agar dilaporkan kepada instansi pembuat.

Jungle Survival

“Janganlah Mencoba untuk menaklukan Alam Tapi Cobalah untuk bersahabat dengan Alam Sebagai bukti kesungguhan mencintai Alam”

A. Bila Tersesat
Dalam melakukan perjalanan (darat, laut, maupun udara) kita berharap selamat sampai tujuan. Oleh karena itu diperlukan suatu perencanaan yang matang, kita sudah mempelajari manajemen perjalanan pada materi yang lalu. Akan tetapi, kemungkinan hal-hal yang tidak kita inginkan dapat terjadi misalnya tersesat. Faktor yang menyebabkan diantaranya factor alam dan factor manusianya sendiri. Dalam keadaan seperti ini ada pedoman yang harus diingat yaitu STOP yang merupakan kependekan dari:

S = Stop/siting, berhenti dan istirahatlah kalau perlu sambil duduk. Usahakan menenangkan pikiran dan JANGAN PANIK!.

T
= Thinking, gunakan akal sehat dan selalu sadar akan keadaan yang sedang dihadapi.

O
= Observe, amati keadaan sekitar, tentukan arah, manfaatkan alat-alat yang ada dan hindari hal-hal yang tidak perlu.

P
= Planning, buat rencana untuk mengatasi masalah. Jangan lupa pikirkan konsekuensinya bila sudah memutuskan apa yang akan dilakukan.

Pedoman Memilih Jalan
Berjalan di hutan-hutan pegunungan memiliki kiat yang tersendiri. Sedapat mungkin berjalan di punggung gunung. Pilihan ini memungkin untuk melakukan orientasi medan lebih mudah dari pada kita berjalan di lembah. Di bagian-bagian tertentu punggungan biasanya ada celah terbuka yang memungkin untuk memperkirakan arah dan posisi survivor. Lagi pula ada kebiasaan orang utas (perambah hutan) untuk membuat jalan di punggung gunung. Bila menemukan jalan setapak ikutah jalan tersebut. Hampir dapat dipastikan akan menemukan pemukiman orang.

Kedua adalah berjalan di dekat batang air atau sungai. Untuk hutan-hutan dataran rendah, berjalan didekat sungai memungkinkan untuk bertemu dengan jalan setapak seperti diatas. Jalan-jalan ini biasanya berpangkal di kelokan sungai atau didekat hulu-hulu sungai di bagian yang landai merupakan lekuk pendaratan bagi perambah hutan. Dengan mengikuti jalur sungai ada beberapa keuntungan yang dapat diraih. Yang jelas survivor tidak perlu khawatir kehabisan air dan bahan makanan. Ikan, reptil, dan bahkan mamalia kecil banyak bersarang didekat tepi sungai. Keuntungan yang lain adalah umumnya pemukiman orang dibuat di dekat atau di tepi sungai, sehingga peluang untuk bertemu manusia lebih besar.

Yang perlu diperhatikan dalam berjalan di tepi sungai adalah bahaya yang berasal dari binatang buas dan datangnya banjir secara tiba-tiba. Demikian pula berjalan mengikuti jalur air / sungai tidak dianjurkan karena khawatir terjebak dalam lembah sungai yang curam dan atau bertemu dengan tebing air terjun yang tak terlewati.

Orientasi medan dapat dilakukan siang dan malam hari, namun berjalan hanya boleh dilakukan di siang hari. Khususnya dipegunungan, orientasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan punggung atau puncak tebing yang terbuka, pohon yang mungkin dipanjat atau pandangan dari celah-celah lembah sungai. Dimalam hari orientasi dapat dilakukan dengan bantuan cahaya lampu-lampu dari pemukiman. Meskipun nampak dekat, berjalan dimalam hari sama sekali tidak dianjurkan. Bahaya tersesat, terjebak atau terjatuh dalam jurang atau serangan binatang liar amat besar kemungkinannya.

Setiap kali berpindah tempat, usahakan untuk selalu meninggalkan jejak yang jelas. Torehan di batang pohon, bekas-bekas tebasan semak belukar, dedaunan yang dipatahkan atau diletakkan dengan posisi tertentu. Jejak yang dibuat amat bermanfaat untuk apabila survivior menemui jalan buntu dan ingin merunut kembali jalan semula. Selain itu jejak ini juga bermanfaat bagi tim pencari untuk menelusuri arah yang ditempuh survivor.

Dalam mencari jalan keluar perhatikan kondisi pikiran maupun fisik yang ada. Apabila sudah buntu / belum menemukan jalan keluar maka kita jangan memaksakan diri untuk terus berjalan. Dengan pertimbangan yang matang maka lebih baik kita bertahan disuatu tempat yang sekiranya aman. Untuk dapat bertahan hidup di tempat tersebut dalam beberapa waktu maka pengetahuan tentang survival mutlak harus di kuasai.

B. Pengertian SURVIVAL
Banyak versi tentang pengertian survival. Survival berasal dari bahasa inggris survive atau to survive yang artinya bertahan hidup. Yang dimaksud disini adalah kemampuan untuk dapat bertahan hidup dari keadaan yang kurang menguntungkan sampai terjalin komunikasi dengan pihak luar. Survival dapat juga diartikan sebagai upaya untuk mempertahankan hidup dan keluar dari keadaan yang sulit atau kritis. Dalam arti yang sempit, survival digunakan dalam kaitan dengan keadaan-keadaan darurat yang terjadi karena terisolasinya seseorang atau sekelompok orang (disebut sebagai SURVIVOR) akibat suatu musibah atau kecelakaan. Keadaan tersebut antara lain tersesat di hutan, terdampar di pulau atau pesawat yang terjatuh disuatu tempat asing. Akibatnya survivor mwngalami kesulitan berkomunikasi dengan masyarakat luas dan dengan demikian sukar mendapatkan bantuan atau pertolongan yang diperlukan.

Berbagai tehnik survival telah dikembangkan orang untuk menghadapi kondisi medan yang memang beragam. Kita mengenal tehnik survival laut (sea survival) yang dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan kecelakaan di laut, survival padang es bagi yang tersesat di pegunungan atau padang salju, survival rimba (jungle survival) bagi yang mengalami musibah atau tersesat di rimba daratan atau pengunungan, survival gurun dan lain sebagainya. Walaupun demikian, terdapat kesamaan tujuan yang mendasari berbagai tehnik survival tersebut, yaitu memulihkan kembali hubungan dengan masyarakat umum. Oleh sebab itu yang ditekankan dalam setiap tehnik survival ini adalah bertahan hidup, mempertahankan hidup lengkap dengan segenap kemampuannya dan kemudian memutuskan isolasi yang menghambat komunikasi survivor dengan masyarakat umum.

Seseorang yang tidak diketahui namanya, telah menyusun dengan bagus kalimat-kalimat dalam bahasa inggris yang merangkai kata SURVIVAL. Kamlimat-kalimat ini menggambarkan prinsip-prinsip yang harus dipegang oleh seorang survivor, yaitu;

* Size Up the Situation, pandailah dalam menilai situasi, setiap kondisi lingkungan dan perubahan-perubahannya harus betul-betul diperhatikan agar selamat.
* Undue Haste Make Taste, jangan tergesa-gesa, biar lambat asal selamat. Setiap tindakan hendaknya dipikirkan untung ruginya. Kesalahan dalam pengambilan keputusan dapat berakibat kematian.
* Remember Where You Are, Ingat dimana kamu berada. Baik posisi harfiah yang berarti lokasi dimana berada maupun posisi yang berarti kondisi dan kedudukan diri pada saat itu.
* Vanquish fear and panic, Kuasai diri dari rasa takut dan panic yang dapat menumpulkan nalar dan pikiran yang jernih.
* Improvise, Perbaiki diri dari kesulitan. Gunakan segenap kemampuan dan pengetahuan untuk keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi.
* Value living, Hargailah kehidupan. Jangan siasakan hidup dengan mengambil keputusan yang ceroboh. Buang pikiran jauh-jauh dari keinginan bunuh diri.
* Act like the native, Sesuaikan diri dengan penduduk setempat, sesuaikan dirimu dengan lingkungan disekitarmu.
* Learn basic skill, Pelajari dasar-dasar pengetahuan dan latihlah kemampuan di alam bebas.

Menurut jumlah orangnya survival ada dua macam yaitu survival individu dan survival kelompok. Dalam survival individu atau sendiri, akan mengundang rasa kesepian dan bosan selain rasa takut dan panik. Kesepian dan bosan adalah masalah besar yang harus segera diatasi dan dihindarkan. Karena hal tersebut akan dapat membuat perasaan tertekan yang bisa menghilangkan semangat dan keinginan untuk hidup. Kesepian dan bosan hanya bisa ada dalam suatu lamunan yang disetujui oleh tindakan dan pikiran. Untuk mengatasinya selalu bekerjalah untuk hal yang perlu dikerjakan akan bisa menghindari rasa sepi dan bosan.

Survival kelompok lebih baik dari pada survival sendiri, tersedianya banyak tenaga untuk melakukan pekerjaan dan adanya teman untuk berkomunikasi yang dapat menghilangkan rasa sepi dan bosan. Namun, setiap orang tidak akan sama dalam menghadapi sesuatu yang dihadapinya. Dalam keadaan ini kecenderungan orang akan bertindak untuk kepentingan dirinya sendiri dengan mengabaikan kepentingan bersama. Untuk menjaga hal tersebut, dan kebersamaan tetap terkontrol maka sebaiknya dipilih seorang pemimpin untu k mengkoordinasikan setiap anggota kelompok. Tugas dari pemimpin dalam survival ini adalah;

· Menyusun rencana yang melibatkan seluruh anggota dan keselamatan menjadi milik bersama.
· Lakukan pembagian tugas pekerjaan kepada setiap anggota. Sesuaikan tugas dengan kondisi tiap anggota. Dengan pembagian tugas pekerjaan akan cepat diselesaikan dan membina rasa kebersamaan.
· Kembangkan rasa kebersamaan dan kepercayaan di dalam kelompok.

C. Kebutuhan Seorang SURVIVOR
Kehidupan merupakan salah satu karunia Tuhan yang paling berharga. Dan hidup manusia amat berharga dari detik ke detik, tak peduli apakah orang itu jelek ataupun baik kelakuannya. Karena itu mempertahankan hidup merupakan kewajiban bagi setiap manusia. Batas kemampuan manusia dalam berusaha adalah ”PINGSAN ATAU MATI” sebelum itu terjadi pantang bagi kita untuk putus asa. Sebelum ajal berpantang untuk mati.

Berhasil atau tidaknya keluar dari keadaan tidak menentu ini, semua tergantung pada diri kita sendiri. Awal dari keberhasilan kita adalah menanamkan atau menumbuhkan dari semangat “HARUS HIDUP”. Tanpa semangat itu, kecil kemungkinan dapat keluar dari keadaan ini. Setelah mendapatkan semangat “HARUS HIDUP” maka kebutuhan yang harus dimiliki seorang survivor adalah :

1. Sikap mental yang mendukung survival diantaranya ; semangat, percaya diri, akal sehat, disiplin dan rencana kegiatan yang matang, serta kemampuan belajar dari pengalaman.

2. Pengetahuan, terutama pengetahuan yang berhubungan dengan tehnik survival yaitu ; cara membuat tempat perlindungan (bivoak), pengetahuan cara memperoleh air dan makanan, membuat api, orientasi medan dan lain-lain.

3. Pengalaman dan Latihan, Survival adalah seni dan perlu kreativitas untuk menjalaninya, semakin kreatif seseorang maka semakin besar peluang orang tersebut untuk tetap hidup bahkan bisa menolong nyawa orang lain. Oleh karena itu pengalaman dan latihan sangat menentukan keberhasilan.

4. Peralatan atau Survival Kit, biasakan SELALU membawa survival kit dalam setiap perjalanan. Karena dengan memiliki survival kit, satu set perlengkapan sudah dimiliki untuk keadaan darurat. Isi kotak survival kit diantaranya ; korek api kedap udara, lilin, kaca pembesar, cermin, jarum dan benang, kail dan senarnya, sol sepatu dan benangnya, kompas, senter kecil, dan obat-obatan.

D. Langkah-langkah dalam survival
Sekali lagi, keputusan yang salah dalam menentukan suatu keputusan akan berakibat kematian. Untuk itu kita harus benar-benar dalam setiap mengambil keputusan. Ada beberapa langkah yang direkomendasikan dalam melakukan survival antara lain ;

1. Mengkoordinasikan anggota, bila beberapa orang, pilihlah salah seorang dari kelompok sebagai ketua. Seorang ketua sangat diperlukan untuk mengatur dan menentukan keputusan bila terjadi perselisihan.

2. Melakukan pertolongan pertama, obatilah anggota yang sakit agar tidak menjadi lebih parah. Dalam keadaan seperti ini penyakit yang ringan dapat berkembang bahkan dapat menyulitkan kita nantinya.

3. Melihat kemampuan dan keadaan anggota kelompok, hal ini akan berguna dalam pembagian tugas. Bedakan berdasarkan kondisi kesehatan, fisik dan mental. Karena jika salah memberikan tugas pada seseorang akan menghambat rencana bahkan dapat berakibat fatal.

4. Mengadakan orientasi medan, usahakan untuk mengetauhi posisi kita, kemungkinan pemukinan penduduk, dan perkiraan jalan keluar.

5. Mengadakan penjatahan makanan, perhitungkan jumlah makanan yang tersedia, jumlah anggota, perkiraan waktu. Disamping itu, mencari sumber makanan yang harus diusahakan dari luar rencana penjatahan. Mengenai cara mendapatkan makanan dan air akan dibahas lebih lanjut.

6. Membuat rencana kegiatan dan pembagian tugas, rencana yang dibuat se-rasional mungkin dan berdasarkan pertimbangan yang matang. Pembagian tugas sesuaikan dengan kondisi saat itu.

7. Usahakan menyambung komunikasi dengan dunia luar, jangan melakukan hal-hal yang berlebihan terlebih menguras tenaga kita. tandailah jalan yang telah kita lewati dan mencari perhatian dengan cara membuat asap, menjemur pakaian di tempat tinggi dan atau terbuka, memantulkan sinar matahari dengan cermin dan lain-lain.

8. Mencari pertolongan. Selalu dan selalu berusaha mencari pertolongan. Buatlah kode-kode dari darat ke udara yang dapat membantu tim penolong, khususnya yang mencari survivor lewat udara. Tanda-tanda yang diberikan harus berukuran cukup besar, menyolok, kontras dengan warna latar belakangnya, dan ditempatkan di tempat yang mudah terlihat dari udara dan atau dari kejauhan. Isyarat boleh dibuat dari benda atau bahan apa saja yang mudah diperoleh. Beberapa kode dari darat ke udara berupa pola-pola yang dibuat di atas tanah adalah sebagai berikut;

E. Memelihara kondisi tubuh
Membuat tempat berlindung (selter / bivoauk)
Kondisi survival adalah keadaan yang tidak menentu, kondisi dimana survivor harus selalu siap dengan segala kemungkinan yang terjadi dengan fasilitas dan sarana sederhana yang ada disekitarnya. Pada keadaan ini, dimana belum dapat dipastikan kapan keluar dari situasi tersebut membuat bivoauk adalah pilihan yang tepat. Tujuannya adalah untuk melindungi diri dari pengaruh alam seperti panas hujan, angin dan dingin.

Dalam membuat bivoauk harus disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi disekitarnya (IMPROVISASI). Hematlah tenaga dengan mencari bahan-bahan yang mudah kita dapatkan disekitar kita. Karena pekerjaan ini sangat menguras tenaga. Lakukanlah pekerjaan yang dirasa perlu dan penting, karena pemborosan tenaga akan mempercepat turunnya daya tahan tubuh. Bivoauck dapat dibuat dari bahan-bahan yang sengaja di bawa misalnya dome/tenda atau bahan-bahan yang tersedia di alam seperti dedaunan, ranting pohon, cekungan dan lain sebagainya. Prinsipnya adalah; CEPAT, AMAN dan NYAMAN.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat tempat perlindungan antara lain ;

1. Untuk berapa lama, dengan merencanakan berapa lama berlindung disuatu tempat, penghematan tenaga dan kesadaran emosi akan selalu terjaga. Akan tetapi bila kita selalu berpindah tempat maka pilihan yang tepat adalah Flying Camp. Untuk perkemahan mengembara (flying camp) sebaiknya jangan menggunakan bahan dari alam. Selain pemborosan tenaga, kondisi alam yang kita hadapi tidak selalu menyediakan kebutuhan kita. Untuk itu kita membutuhkan tenda / bahan yang ringan, mudah dilipat, tidak banyak memakan tempat, dan mudah dibongkar pasang. Tenda yang memenuhi persyaratan tersebut adalah tenda dome.
2. Sendiri atau kelompok, sesuaikan ukuran dengan jumlah orang dan barang. Tidak terlalu sempit dan tidak terlalu luas, agar kehangatan tempat berlindung dan kenyamanannya tetap terjaga. Usahakan setiap anggota dapat tidur dalam posisi yang sempurna.
3. Pilih tempat yang sesuai, terlindung dari terpaan angin secara langsung, rata, jangan di tempat yang kemungkinan banjir, tidak di bawah pohon/ranting yang sudah mati/rapuh, bukan sarang dan jalur binatang. Gunakan bahan yang kuat dan usahakan sebaik mungkin karena akan turut menentukan dalam kenyamanan. Untuk waktu yang lama, dirikanlah bivoauk yang tidak terlalu jauh dari air agar mudah mendapatkan air. Tapi juga jangan terlalu dekat atau didaerah aliran air untuk menghindari bahaya banjir. Dirikan pada tempat yang terlindung dari terpaan angin dan jangan mendirikan pada daerah yang terbuka yang langsung diterpa angin. Dan yang terakhir pilihlah tempat yang rata dan kering.
4. Manfaatkan alat dan kondisi alam disekitar kita, misalnya tenda/dome, ransel, ponco, lubang besar dipohon, pohon tumbang, goa atau cekungan di lereng, dan lain-lain. Berdasarkan jenis bahannya bivouck dibedakan menjadi bivouck buatan dan bivouck alam. Bivouack buatan bivouack yang dibuat dari bahan-bahan yang dibawa maupun dari alam sedangkan bivouack alam adalah bivouack yang telah tersedia di alam misalnya cekungan, goa, pohon roboh dan lain-lain.

Contoh-contoh bivouack lihat di gambar (belum tersedia)

Air dan cara mendapatkannya
Air adalah komponen yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Dalam tubuh kita mengandung air sebanyak 75%, yang berperan dalam mempertahankan suhu tubuh, fungsi ginjal, dan menghilangkan rasa haus. Dengan meminum 4 – 5 liter air manusia dapat bertahan hidup 2 – 3 minggu sedangkan tanpa air manusia dapat bertahan hidup hanya 2 – 5 hari saja walaupun kondisi tubuh tidak terluka. Dalam keadaan survival jangan menunggu kehabisan persedian air, baru memulai mencarinya. Hematlah selalu air yang ada dan segera mencari sumber air terdekat untuk memenuhi persedian air kita. Kalau kondisi airnya terbatas lakukanlah pembagian jatah untuk setiap orang.

Air dapat dikonsumsi dengan baik apabila tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. Untuk mendapatkan sekedar air sebenarnya tidak terlalu sulit apalagi hutan hujan tropis. Yang jadi pertanyaan adalah apakah air tersebut layak untuk kita konsumsi atau tidak. Berdasarkan sumber air yang diperoleh, ada air yang langsung dapat diminum dan ada yang harus mengalami treatment terlebih dahulu (dimasak, disterilkan, dan lain-lain).

Sumber air yang dapat langsung diminum
Pertama adalah air hujan. Meskipun kadang air hujan mengandung asam pada prinsipnya air hujan dapat diminum langsung, hanya diperlukan cara untuk mengumpulkannya. Cara mengumpulkan air hujan dapat dengan menggali lubang dan dipulas dengan tanah liat atau dasarnya dilapisi dengan bahan-bahan yang dapat menampung air seperti ponco, daun, alumunium foil, kulit kayu, plastik dan lain-lain. Ada baiknya setelah mendapatkan air kita masak terlebih dahulu.

Sumber yang kedua adalah dari tumbuhan dan atau lumut. Kita dapat memanfaatkan proses respirasi tumbuhan untuk mendapatkan air. Caranya adalah selubungkan sebuah ranting dan daunnya dengan sebuah kantong plastik yang ujungnya diikat. Penguapan dari daun akan menyebabkan timbul pengembunan pada plastik bagian dalam. Pilih bagian daun yang sehat dan banyak daunnya. Pada lumut kita dapat langsung menyerap air pada lumut dengan bahan yang mudah menyerap air seperti kain.

Sumber yang ketiga adalah embun. Pada daerah yang memiliki iklim yang sangat ekstrim dimana sangat panas di siang hari dan sangat dingin di malam hari, kita dapat menampung embun sangat banyak. Untuk mendapatkan air kita dapat menggunakan kain, busa, ponco, plastik dan lain-lain.

Sumber yang keempat adalah tanaman rambat atau rotan yang ada di hutan. Potonglah dengan pisau setinggi mungkin yang dapat dijangkau kemudian potong juga bagian bawahnya yang dekat dengan tanah. Air yang menetes dari batang tersebut dapat ditampung atau langsung diteteskan ke mulut.

Sumber yang kelima adalah air yang tertampung pada daun-daun yang lebar, biasanya setelah hujan ataupun embun di pagi hari, pada ruas bambu dan pada bunga kantong semar (Nephenthes sp) terdapat air. Untuk air yang dari kantung semar sebaiknya dimask dulu karena sering terdapat serangga yang sudah mati dan berbau.

Sumber keenam adalah dengan memanfaatkan kondensi tanah. Dalam hal ini memanfaatkan uap air tanah yang ditahan kemudian ditampung kedalam suatu tempat. Caranya adalah galilah tanah dengan kedalaman tertentu kemudian gelarkan plastik diatas lubang tersebut kemudian ujungnya ditahan. Beri pemberat di bagian tengah plastik penutup lubang hingga plastik agak masuk kedalam lubang. Sebelumnya telah diletakkan suatu wadah tepat dibagian tengah pemberat hingga nantinya air akan menetes di wadah tersebut. (lihat gambar….)

Sumber air yang tidak dapat langsung diminum
Lubang Air dan. Air yang terdapat di tempat ini biasanya juga bercampur dengan lumpur, potongan ranting, daun-daun kecil dan partikel-partikel besar lainnya. Cara yang terbaik adalah membiarkan terlebih dahulu air untuk beberapa saat agar mengendap. Sedngkan yang terapung di permukaan dapat dipungut langsung. Cara lain adalah dengan menggunakan kain atau busa kemudian diletakkan di permukaan secara perlahan dicelupkan ke dalam air lalu di peras dan ditampung disuatu tempat. Bisa juga dilakukan penyaringan atau disterilisasi dengan bahan-bahan seperti tablet Halazone, Iodine, Butir garam abu permanganate, atau bahan lainnya yang dibawa.

Air yang menggenang. Walaupun kita kadang ragu akan kebersihannya, dalam keadaan darurat air seperti ini masih dapat dimanfaatkan. Cara paling aman untuk memanfaatkan air itu adalah dengan melakukan penyaringan.

Air hasil galian di pantai dan atau sungai yang kering. Air tersebut harus mengalami proses lanjutan yaitu dengan dimurnikan terlebih dahulu. Caranya adalah ukur jarak sekitar 5 – 7 meter diatas air pasang untuk melakukan penggalian dengan cara membuat lubang kecil. Air yang didapat dengan cara ini biasanya tidak mengandung garam. Sebagai catatan air yang segar akan terletak diatas air yang asin dalam lubang galian tersebut. Air yang didapat dengan cara ini walaupun agak payau akan tetapi aman untuk dikonsumsi. Apabila air masih terlalu payau maka dapat dilakukan penggalian dengan penambahan jarak galian atau dilakukan penyaringan.

Cara penyaringan air
Pertama penyaringan dapat dilakukan dengan menggunakan baju kaos yang berlapis. Lebih baik kaos yang berwarna putih karena akan lebih jelas terlihat apabila kaos penyaring tersebut kotor dapat dibersihkan terlebih dahulu sebelum dilakukan penyaringan kembali.

Kedua. Dengan cara melewatkan air kedalam bambu. Tabung bambu bagian dasar dilapisi dengan kerikil dan ijuk atau bisa digunakan lapisan dedaunan kering dan rumput kering sebagai penyaringnya. Perlu diingat juga bahwa cara membersihkan air dapat dilakukan dengan mengendapkan selama 24 jam. Untuk menjaga kebersihannya maka sebaiknya tempat pengendapan ditutup rapat.

”INGAT! APABILA INGIN MINUM AIR, ambillah sedikit demi sedikit/ isapan. Jangan langsung minum sebanyak-banyak apabila menemukan air. Meminum sekaligus banyak hanya akan membuat muntah seseorang yang sedang kekurangan cairan (dehydrasi) sehingga akan membuat keadaan menjadi lebih parah.”

Tanda dari hewan ke sumber Air
Hewan bertulang belakang memerlukan air secara tetap. Hewan memamah biak biasanya hidup didekat air dan akan selalu berusaha di dekat sumber air. Hewan ini memerlukan air setiap sore dan pagi hari, bekas jejak hewan ini akan sangat jelas menuju ke lembah ke arah sumber air.

Burung pemakan buah tidak akan jauh dari sumber air. Binatang ini minum pada pagi dan sore hari. Apabila burung ini terbang langsung dan rendah maka itu tanda akan menuju air. Setelah minum burung tersebut akan terbang dari pohon ke pohon dan sering beristirahat. Pastikanlah lintasan terbang burung ini maka kemungkinan besar akan bertemu sumber air.

Serangga sebagai tanda yang baik terutama lebah. Mereka bisa terbang sekitar 6,5 Km dari sarang tetapi tidak mempunyai jadwal tetap mencari air. Semut sangat memerlukan air, sekumpulan semut yang berbaris menuju pucuk pohon untuk mengambil air yang terperangkap di sana. Seringkali penampungan air ini satu-satunya didaerah yang kering.

Menahan air dalam tubuh
Untuk menahan air dalam tubuh kita atau agar tidak cepat kehilangan kadar air dalam tubuh (dehydrasi) perlu diingat ;

* Hindari pergerakan yang berlebihan
* Untuk orang yang suka merokok, jangan terlalu banyak merokok.
* Berteduh di tempat yang teduh
* Jangan minum alcohol

· Bernapas melalui hidung, sedikit mungkin melalui mulut.

Perapian dan cara memasak dalam survival
“Kecil jadi sahabat besar jadi musuh” itulah api. Perapian merupakan hal penting yang harus kita pelajari dalam survival. Fungsi api dalam survival diantaranya sebagai penghangat tubuh, penerangan, menjauhkan hewan berbahaya, memasak, memberi tanda-tanda atau kode dll.

Dalam membuat api perlu diketahui 3 syarat yaitu udara, bahan bakar dan sumber panas. Satu syarat diatas tidak terpenuhi maka tidak akan terjadi pembakaran. Pilih tempat dekat shelter yang kering, terlindung dari angin dan dibersihkan dahulu dari serasah atau bahan lain yang mudah terbakar disekitarnya untuk mencegah kebakaran.

Dalam menyalakan api khususnya didaerah yang lembab, persiapkan tipe bahan sebagai berikut;

1. Tinder (penyala), material kering yang akan menyala dengan panas atau suatu percikan api.

2. Kindling (pemancing), material yang sudah disiapkan dan gampang menyala yang akan ditambahkan setelah bahan tinder menyala.

3. Fuel (bahan bakar), material ini diperlukan saat api sudah menyala besar dan baru dibutuhkan bahan pembakar yang agak besar dan terbakar secara pelahan-lahan.

Untuk daerah yang lembab (hutan hujan tropis) seperti kebanyakan hutan di Indonesia cara efisien dan efiktif adalah menggunakan korek api dan lilin agar tidak cepat mati. Akan tetapi apabila tidak korek api, ada beberapa cara yang dapat dicoba. Tetapi ingat cara ini memerlukan ketekunan dan kesabaran. Cara-cara yang dapat dilakukan diantaranya;

1. Menggunakan lensa / kaca pembesar / lup

2. Mengesekan kayu/bambu dengan kayu/bambu (keduanya harus kering)

3. mengesekkan pisau dengan batu dan atau batu dengan batu.

Tapi ingat, ketiga cara diatas tidak direkomendasikan di hutan yang lembab (Indonesia). Oleh karena itu bawalah selalu SURVIVAL KIT dalam setiap perjalanan.

Setelah dapat membuat api maka pengetahuan memasak dalam survival juga perlu untuk dipelajari. Memasak dalam survival adalah memberikan perlakuan terhadap bahan yang tersedia di alam untuk dimanfaatkan (dimakan). Tujuan dari memasak diantaranya; mengadakan sterilisasi, membuat bahan makanan agar mudah dicerna, menambah kenikmatan, dan lain-lain.

Apabila kita membawa peralatan memasak lengkap tentu tidak akan menjadi masalah. Akan tetapi apabila peralatan kita minim atau bahkan tidak membawa peralatan masak kita bisa menggunakan fasilitas dari alam sebagai sarana. Cara memasak tersebut diantaranya;

1. Memasak dengan menggunakan kaleng bekas, pastikan kaleng yang akan kita gunakan bersih.

2. Dengan menggunakan bambu, ambillah batang bambu yang masih muda / masih hidup. Potong sesuai ukuran yang diperlukan. Masukkan beras atau bahan makanan kedalam lubang bambu kalau perlu tambah air. Masukkan bambu tersebut ke dalam bara api.

3. Memasak dengan menggali lubang di tanah, buatlah lubang di tanah secukupnya. Lalu daun tersebut dialasi dengan daun yang lebar yang bisa menahan air. Masukkan beras yang telah di cuci dan direndam beberapa saat ke lubang tersebut. Tutup dengan daun yang telah kita sediakan, selanjutnya tutup kembali dengan tanah. Buat api unggun diatasnya yang tidak terlalu besar tetapi menyala dengan konstan. Tunggu beberapa saat, lalu kita buka lubang tadi dan selanjutnya nasi siap untuk dimakan.

4. Memasak dengan menggunakan kelapa muda, ambil buah kelapa yang masih muda. Lalu kupas ujung bagian atasnya yang berfungsi sebagai lubang. Masukkan beras yang kita cuci kedalam buah kelapa tadi. Masukkan buah kelapa yang telah diisi beras tersebut kedalam bara api, tunggu dan beberapa saat sampai nasi matang.

Banyak fasilitas dari alam yang dapat kita gunakan sebagai sarana memasak. Hal ini tergantung pada kreatifitas dari survivor.

F. Sumber-sumber makanan dari alam

Survivor dapat bertahan hidup maksimal tanpa makanan selama 2 – 3 minggu. Kondisi ini apabila tidak ada air sama sekali. Sama seperti air jangan menunggu makanan habis untuk mencarinya. Menurut sumbernya makanan dapat diperoleh dari tumbuhan (Botani) dan hewan (Zoloogi).

Zoologi praktis

Tidak semua hewan dapat kita makan. Hal ini karena beberapa hewan dapat menimbulkan bahaya bagi manusia. Sebab-sebab hewan berbahaya tersebut karena;

- Mengandung bisa / racun. Bukan berarti kita tidak memakan jenis hewan ini, akan tetapi perlu diperhatikan bahayanya bagi tubuh kita. Apabila unsur racun / bisa dalam tubuh binatang ini bisa kita hilangkan maka kita dapat mengkonsumsinya. Binatang yang berbahaya tersebut diantaranya adalah; Nyamuk malaria, semut api, tawon atau lebah, kelabang dan atau scorpio/kalajengking, pacet, harimau, buaya, ular, ikan lepu batu, ikan pari dan lain-lain.

- Menyebarkan bau yang khas / busuk. Binatang tertentu tidak dapat dimakan karena mempunyai kelenjar bau yang menyebar secara khas (busuk). Ini dimunkinkan karena bau busuk tersebut berfungsi sebagai senjata untuk melindungi dari predator. Contoh binatang ini adalah tikus busuk atau cecurut.

Satwa sebagai Sumber makanan (lebih lengkapnya lihat di tabel):

· Molusca, contohnya siput dan kerang.

· Annelida, contohnya cacing tanah dan sondari (Pheretima sp)dan lintah (Hirudinaria sp).

· Insecta, contohnya belalang (Palanga sp)

· Crustacea, contohnya udang dan kepiting

· Pisces, semua ikan dapat dimakan.

· Amphibia, contohnya katak Rana sp

· Reptilia, contohnya ular, kadal, cecak dan lain-lain.

· Mamalia, contohnya kelinci, rusa, tikus dan lain-lain.

· Aves, contohnya ayam hutan Gallus gallus

Untuk mempermudah mendapatkan satwa ini maka kita memerlukan peralatan atau membuat peralatan sebagai berikut ;

· Tali, adakalanya dalam keadaan survival diperlukan tali untuk mengikat sesuatu atau sebagai alat bantu dalam pejalanan, sedangkan tali buatan tidak tersedia dalam perlengkapan yang dibawa, untuk itu tali dapat dibuat dari sobekan kain, rotan, akar, bambu atau pilinan/anyaman serat tumbuhan seperti gambar……..

· Pisau, dapat dibuat dengan menggunakan kulit luar bambu ( sembilu ), pecahan kaca, tulang binatang atau batuan yang diruncingkan

· Memancing, untuk tali dapat dibuat dari benang kain / pakaian atau serat tumbuhan, sedangkan mata kail dibuat dari peniti, kawat, duri, kayu atau tulang

· Selain dengan peralatan mancing, mencari ikan dapat dilakukan dengan menuba, di daerah pedalaman dilakukan dengan menggunakan akar tuba sedangkan untuk daerah pantai dapat dilakukan dengan menggunakan buah Baringtonia yang ditumbuk dan ditebarkan ke perairan yang banyak mengandung ikan.

· Senjata, dalam keadaan survival terkadang kita memerlukan senjata untuk mempertahankan diri atau berburu binatang guna keperluan makan, ada beberapa cara diantaranya dengan memakai tongkat kayu, bambu runcing, tombak, boomerang, kapak atau panah yang kesemuanya dapat dibuat sendiri dari bahan yang tersedia.

· Jerat,/Jebakan dan Jaring. Selain menggunakan senjata, untuk menangkap khewan dalam kadaan survival, paling praktis adalah dengan membuat jerat khewan, jenis jerat bermacam macam tergantung jenis serta ukuran khewan yang akan ditangkap. Jebakan diatas dibuat dengan cara melobangi tanah, jenis mamalia kecil akan terjebak di dalam lobang karena berbentuk seperti leher botol, hati-hati dalam mengambil tangkapan karena bisa jadi yang masuk malah ular berbisa.Jerat yang aman dalam artian, hewan yang kena tidak akan mati karena jebakannya adalah dengan membuat jerat kaki, hewan yang menginjak jebakan akan terjerat kakinya.Untuk jenis burung atau dapat menggunakan jaring yang dipasang diantara dua pohon yang biasa dilalui burung. Burung yang terbang akan tersangkut di jaring sehingga mudah untuk ditangkap

Botani praktis

Yang perlu diperhatikan dalam keadaan darurat untuk memakan tumbuhan yang tidak umum, sebaiknya memakan tidak hanya satu jenis tumbuhan saja. Dalam pemanfaatan sebagai bahan makanan ada beberapa cara yang digunakan, yaitu:

· Tumbuhan yang dapat dimakan langsung, biasanya Tumbuhan yang dimanfaatkan pada bagian buah serta daun atau pucuk. Contoh : Rasamala, gelagah, sintrong, bunut, putat dan lain-lain.

· Tumbuhan yang harus dimasak terlebih dahulu, Biasanya dimasak dengan cara direbus, dibakar atau digoreng. Contoh : Pucuk puring, umbut palem-paleman rotan, buah saninten, pasang, umbi talas dan lain- lain

· Tumbuhan yang harus diolah lalu dimasak, Biasanya dilakukan pengolahan terlebih dahulu seperti perendaman selama berhari-hari atau diberi campuran bahan penetral sebelum dimasak, atau dalam memasaknya harus sering mengganti air, karena apabila dimakan langsung dapat mengakibatkan gatal atau memabukan. Contoh : Umbi Acung, Suweg, gadung dll.

Pada dasarnya tumbuhan yang dimakan hewan dapat dimakan manusia. Namun dalam memanfaatkan tumbuhan hati-hati terhadap tumbuhan beracun, untuk itu perlu dilakukan tes apakah bisa dimakan atau tidak. Ambil sebagian tumbuhan tidak bergetah yang ingin dimanfaatkan coba patahkan kemudian oleskan ke kulit tunggu beberapa menit, apabila tidak terasa reaksi seperti gatal / panas, diulangi dengan menggunakan lidah apabila tidak ada reaksi juga berarti dapat dimakan.

Seputar Gunung Meletus

Letusan Gunung Merapi, Indonesia
Seringkali di Indonesia yang merupakan bagian dari cincin api pasifik, kita dengar "Gunung A meletus", "Gunung B dalam keadaan siaga", dan lain sebagainya. Tapi apakah anda mengetahui apa definisi dari Gunung Meletus tersebut? 
Di bawah ini akan kami jabarkan definisi tersebut...

Gunung meletus merupakan peristiwa yang terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi.

Magma adalah cairan pijar yang terdapat di dalam lapisan bumi dengan suhu yang sangat tinggi, yakni diperkirakan lebih dari 1.000 °C. Cairan magma yang keluar dari dalam bumi disebut lava. Suhu lava yang dikeluarkan bisa mencapai 700-1.200 °C. Letusan gunung berapi yang membawa batu dan abu dapat menyembur sampai sejauh radius 18 km atau lebih, sedangkan lavanya bisa membanjiri sampai sejauh radius 90 km.

Tidak semua gunung berapi sering meletus. Gunung berapi yang sering meletus disebut gunung berapi aktif.

Berbagai Tipe Gunung Berapi
  1.     Gunung berapi kerucut atau gunung berapi strato (strato vulcano)
  2.     Gunung berapi perisai (shield volcano)
  3.     Gunung berapi noah-noah

Ciri-ciri gunung berapi akan meletus
Gunung berapi yang akan meletus dapat diketahui melalui beberapa tanda, antara lain
  1.     Suhu di sekitar gunung naik.
  2.     Mata air menjadi kering
  3.     Sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang disertai getaran (gempa)
  4.     Tumbuhan di sekitar gunung layu
  5.     Binatang di sekitar gunung bermigrasi

Hasil letusan gunung berapi
Berikut adalah hasil dari letusan gunung berapi, antara lain : 
Gas vulkanik 
    Gas yang dikeluarkan gunung berapi pada saat meletus. Gas tersebut antara lain Karbon monoksida (CO), Karbon dioksida (CO2), Hidrogen Sulfida (H2S), Sulfur dioksida (S02), dan Nitrogen (NO2) yang dapat membahayakan manusia.
Lava dan aliran pasir serta batu panas
    Lava adalah cairan magma dengan suhu tinggi yang mengalir dari dalam Bumi ke permukaan melalui kawah. Lava encer akan mengalir mengikuti aliran sungai sedangkan lava kental akan membeku dekat dengan sumbernya. Lava yang membeku akan membentuk bermacam-macam batuan.
Lahar
    Lahar adalah lava yang telah bercampur dengan batuan, air, dan material lainnya. Lahar sangat berbahaya bagi penduduk di lereng gunung berapi.
Hujan Abu
    Yakni material yang sangat halus yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan. Karena sangat halus, abu letusan dapat terbawa angin dan dirasakan sampai ratusan kilometer jauhnya. Abu letusan ini bisa menganggu pernapasan.
Awan panas
    Yakni hasil letusan yang mengalir bergulung seperti awan. Di dalam gulungan ini terdapat batuan pijar yang panas dan material vulkanik padat dengan suhu lebih besar dari 600 °C. Awan panas dapat mengakibatkan luka bakar pada tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan, leher atau kaki dan juga dapat menyebabkan sesak napas.

Bagikan

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More